EMail :
admin@lensarakyat.com

Pengunjung

224631
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Semua
61
819
5071
211697
18263
26664
224631

Your IP: 54.166.245.10
2018-05-25 02:41
×

Pemberitahuan

There is no category chosen or category doesn't contain any items

Banyuwangi

Banyuwangi - Dinas Perhubungan dan Lalu-Lintas Angkutan Jalan (Dishub dan LLAJ) Provinsi Jawa Timur merazia sejumlah kendaraan yang melalui Jalan Raya Banyuwangi - Jember, di area Jembatan Timbang, Kecamatan Kalibaru, Kamis (15/09). Tak hanya kendaraan roda dua, petugas juga merazia kendaraan berbagai jenis yang melintas.

Dishub dan LLAJ Provinsi Jawa Timur dalan razianya juga bekerjasama dengan Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informasi (Dishubkominfo) Kabupaten Banyuwangi, Lantas Polres Banyuwangi, Lantas Polsek Kalibaru, dan Polisi Militer (PM). Sejumlah kendaraan roda dua juga diarahkan masuk jembatan timbang bersama truk, bus untuk diperiksa surat-surat maupun kelengkapan lainnya.

Kasi Pengawasan dan Pengendalian Angkutan Jalan UPT DLLAJ Banyuwangi Jawa Timur, I Made Pasek Suparta disela-sela razia mengatakan, sebenarnya razia tersebut merupakan program Operasi Sadar Keselamatan Lalu-lintas dan Angkutan Jalan. "Razia ini masuk dalam tipe B  sehingga kendaraan yang ditindak untuk langsung mengambil surat-surat kendaraan yang menyalahi aturan dan untuk menghadiri sidang di Pengadilan Negeri Banyuwangi." Ungkapnya.

“Razia juga menindak kendaraan yang menyimpang trayek. Kegiatan ini merujuk pada Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu-lintas dan Angkutan Jalan.”Pungkasnya. (Dafid Firmansyah)

Banyuwangi - Meski belum sempat melepaskan lelah karena baru tiba dari Jakarta, seusai melaksanakan ibadah haji. Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas masih menyempatkan diri untuk menyapa lewat telepon kepada ribuan penonton Festival Gandrung Sewu 2016 dan peserta festival.

" Banyuwangi boleh maju, pendapatan perkapita kita boleh meningkat, tetapi budaya kita tidak boleh tenggelam ditengah perkembangan modernitas bangsa dan negara kita ini. Oleh karena itu Festival Gandrung Sewu menjadi salah satu sarana untuk mempertahankan kebudayaan kita, ini bukan semata-mata seni pertunjukkan, tetapi ini merupakan bagian dan cara Banyuwangi untuk mengkonsolidasi agar anak-anak kita, generasi muda kita kenal dengan budaya dan kebudayaan yang ada di daerah ini. " Demikian pesan Abdullah Azwar Anas.

Perhelatan seni tari akbar Khas Osing ini digelar pada hari Sabtu, (17/09) mulai pukul tiga sore dengan lokasi di Pantai Boom Kecamatan Banyuwangi. Tarian kolosal Gandrung Sewu diikuti 1200 penari, dari berbagai lembaga sekolah yang tersebar di 24 kecamatan.


Gandrung merupakan tarian khas Banyuwangi yang telah ditetapkan sebagai "Warisan Budaya Tak Benda" tahun 2013 lalu, oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (kini Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah). Gandrung Sewu adalah pertunjukan tarian gandrung yang melibatkan ribuan penari gandrung yang dipoles tarian teatrikal kisah dijaman Kerajaan Blambangan dan digelar diatas pasir pantai dengan latar belakang Selat Bali.

Tahun ini, Festival Gandrung Sewu mengangkat tema "Seblang Lukinta" yang terkemas lebih lengkap dengan iringan musik rancak dan sentuhan teatrikal. Dalam Festival Gandrung Sewu, muncul adegan Gandrung Semi dengan diikuti ribuan penari gandrung berkostum merah yang berhamburan dari berbagai arah kemudian menyatu di satu titik, melambangkan semangat perjuangan masyarakat Banyuwangi tempo dulu melawan VOC Belanda.

Festival Gandrung Sewu dan berbagai acara promosi wisata di Banyuwangi adalah ikhtiar untuk memperpanjang siklus destinasi. Sehingga, Banyuwangi tidak hanya dikenal dengan satu atau dua destinasi saja seperti Pantai Pulau Merah, Kawah Ijen, atau Pantai Plengkung yang selama ini sudah cukup tersohor.

"Dengan memperpanjang siklus destinasi, otomatis lama kunjungan wisatawan bertambah. Setelah menikmati event, misalnya ke Kawah Ijen, Pulau Tabuhan, belanja kuliner, dan sebagainya, otomatis belanja wisatawan lebih besar. Pariwisata event juga memberi banyak opsi ke wisatawan untuk memilih jadwal agenda kunjungan ke Banyuwangi," kata Anas kepada awak media lensarakyat dalam suatu kesempatan sebelum ia berangkat menunaikan ibadah haji.
(M.A.Ridho)

Banyuwangi - Dalam rangka menyambut Hari Jadi Kabupaten Banyuwangi, dan Festival Kesenian Gandrung Sewu 2016, jajaran Forpimka Kecamatan Glenmore melepas keberangkatan 51 penari. 51 penari tersebut merupakan peserta yang rencananya akan mengikuti festival tari Gandrung bertaraf internasional di pantai Boom Banyuwangi, Sabtu (17/09)

Sutanto Wibowo, camat Glenmore mengatakan bahwasanya Banyuwangi festival merupakan kegiatan rutin Pemkab Banyuwangi, sedangkan tari Gandrung Banyuwangi sudah mendapatkan predikat internasional. Ia juga menyampaikan rasa terima kasihnya pada seluruh instansi dan lembaga di wilayah kerjanya yang telah mendukung terlaksananya kegiatan Festival Gandrung Sewu 2016.

"Kecamatan Glenmore mengirim 51 peserta penari Gandrung yang di wakili beberapa sekolahan mulai dari tingkat SD hingga tingkat SLTA / sederajat yang ada di Kecamatan Glenmore. “Alhamdulillah kemarin saat latihan bersama mendapatkan predikat penari terkompak dan terserasi, ini merupakan suatu kebanggaan bagi kami semuanya,"ucapnya pada wartawan lensarakyat.com, Jumat (16/09). (Dafid Firmansyah).

Banyuwangi – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi sukses menggelar festival bertaraf internasional dengan tema Gandrung Sewu di Pantai Boom, Kelurahan Kampung Mandar, Kecamatan Banyuwangi, Sabtu (17/09). Meski tidak sempat hadir, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang akrab di panggil Kang Anas menyempatkan diri menyapa masyarakat yang hadir festival melalui telepon.

“Gandrung Sewu 2016 merupakan salah satu upaya untuk eksistensi budaya lokal yang ada di Kabupaten Banyuwangi. Dan Pemkab Banyuwangi sudah menetapkan Gandrung Sewu menjadi maskot Banyuwangi melalui SK Bupati yg tertuang dalam Perda Nomer 173 tahun 2002.” Ungkap Kang Anas.

Bupati juga merasa bangga sekaligus mengucapkan rasa terima kasih pada anak-anak penari, seniman seluruh Kabupaten Banyuwangi.yang meliputi Kecamatan Pesanggaran, Wongsorejo, Kalibaru yang telah menyemarakkan Festival Gandrung Sewu 2016. Meski Gandrung Sewu budaya lokal, namun ketenarannya sudah mencapai tingkat internasional," kata Kang Anas pada wartawan lensarakyat.com

“Infrastruktur Banyuwangi terus dibangun dan Ekonomi terus ditingkatkan namun budaya atau kesenian lokal tidak boleh tenggelam oleh kemajuan jaman, harus tetap di lestarikan agar tidak Punah,” pungkasnya.

Deputi Pengembangan Pariwisata Kementerian Pariwisata, Hesti Reko Hastuti yang hadir dalam Festival Gandrung Sewu 2016 mengatakan, Banyuwangi telah memiliki destinasi wisata yang lengkap dan sangat luar bisa kemajuannya dan bisa menjadi percontohan untuk Kabupaten lain yang ada di Indonesia. ”Kemajuan Banyuwangi di bidang pariwisata setiap tahunnya semakin maju dan berkembang dengan baik," terangnya. (Dafid Firmansyah)

Minggu, 18 September 2016 11:41

KIP “MI” Di Banyuwangi Amburadul ?

Banyuwangi - Program Indonesia Pintar melalui Kartu Indonesia Pintar (KIP) merupakan salah satu program nasional yang salahsatunya bertujuan meningkatkan angka partisipasi pendidikan dasar dan menengah serta meningkatkan angka keberlanjutan pendidikan yang ditandai dengan menurunnya angka putus sekolah dan angka melanjutkan. Namun di salah satu MI di Kabupaten Banyuwangi, KIP pendistribusiannya justru menimbulkan polemik sehingga terkesan amburadul.

 "Saya baru tahu kalau anak saya yang sekolah di MI Miftahul Ulum Sampangan Desa Kedungrejo Kecamatan Muncar memperoleh KIP, namun namanya beda, sehingga saya menyuruh suami saya untuk menanyakan tentang KIP tersebut. Anak saya bernama Radha Uma Zeta namun dalam kartu KIP tertera nama Rada Dwi Anditasari jadi saya bingung,”ungkap Musdzalifah, orang tua Radha Uma Zeta, Selasa (13/09) pada awak media lensarakyat.com.

Musdzalifah juga sempat  menanyakan perihal beda nama antara nama anaknya dengan kartu yang tertera di kartu KIP ke pihak sekolah tempat anaknya belajar. Dan salah satu guru MI mengaku jika dahulu memang ada siswinya yang bernama Rada Dwi Anditasari dan telah lulus sekolah dua tahun yang lalu.

Hingga berita ini ditayangkan, pihak Kepala Sekolah Madrasah Miftahul Ulum belum dapat dimintai keterangan karena berada di Bali, saat dihubungi lewat ponsel  juga tidak aktif.

Sementara Suciningsih, Kasi Madrasah Kantor Kemenag Banyuwangi membenarkan adanya beberapa siswa-siswi penerima KIP yang telah lulus sekolah. " Saya mendapat info dari beberapa Madrasah Ibtidaiyah tentang murid penerima KIP telah lulus MI dan melanjutkan pendidikan ke MTS ataupun SMP. Dan tidak mengapa KIP itu diberikan agar dapat digunakan penerima di  sekolah pendidikan, selama murid penerima layak memperoleh kartu KIP,” ucapnya.

“Semoga kedepan pendataan berbasis EMIS ( Education Management Information System ) lebih tepat sasaran dan valid," imbuhnya dengan optimis. (M.A.Ridho)

Selasa, 13 September 2016 12:41

Jajaran Kemenpan Pantau Polres Banyuwangi

Terkait Pelayanan SKCK Dan SIM Di Polres Banyuwangi

Banyuwangi – Loket pelayanan publik di Kantor Polres Banyuwangi mendapatkan apresiasi Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara (Kemenpan). Kemenpan menilai sistem layanan publik yang diterapkan Polres Banyuwangi layak untuk menjadi contoh kepada instansi yang lain. Ini terungkap saat kunjungan Assisten Deputi pada Pelayanan Publik Wilayah 2 Kemenpan Jeffrey Erlan Muller ke Polres Banyuwangi, Selasa (06/09).

Jeffrey melihat langsung pelayanan SKCK dan SIM di Polres Banyuwangi. Kapolres Banyuwangi AKBP Budi Mulyanto dan Wakil Bupati Banyuwangi tampak mendampingi kunjungan tersebut. Dalam kunjungan itu, Jeffrey beberapa kali menanyakan sistem pelayanan yang diterapkan, ia berbincang dengan masyarakat yang sedang mengurus pembuatan SKCK dan SIM.

Disela-sela kunjungannya, Jeffrey menyatakan jika kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden RI Joko Widodo yang menginginkan agar tidak ada lagi keluhan masyarakat terkait pelayanan publik. Menurutnya Presiden juga memerintahkan pelayanan publik seluruhnya harus berbasis teknologi Informasi. “Kunjungan kami ini bagian dari monitoring dan evaluasi yang dilakukan di 59 kabupaten,” ungkapnya.

Pelayanan SKCK dan SIM di Polres Banyuwangi menurutnya sudah sangat baik. Sebagai contoh pelayanan pendaftaran SIM sudah bisa dilakukan secara online sehingga cukup dengan menggunakan teknologi smartphone bisa urus SIM.

Dari pantauannya alur pelayanan juga sudah sangat baik, untuk sisi pembayaran tidak terlihat petugas yang menerima pembayaran. Seluruh pembayaran langsung dilakukan di loket bank yang sudah tersedia. “Tadi juga saya tanya selain biaya resmi masyarakat tidak lagi mengeluarkan biaya lain-lain,” jelasnya.

Menurutnya, inilah praktek keterbukaan yang merupakan bentuk akuntabilitas publik atau pertanggungjawaban kepada publik, dengan keterbukaan layanan, masyarakat dapat secara langsung melakukan pengawasan.“Ini yang dinamakan pengawasan melibatkan masyarakat secara langsung, ini akan ditularkan kepada yang lain,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama Kapolres Banyuwangi AKBP Budi Mulyanto menyatakan Kapolri sudah menekanan kepada seluruh jajarannya agar pelayan publik harus mudah diakses masyarakat dan dapat diakses melalui teknologi informasi on-line.“Ini bagian dari program Kapolri,” tegas mantan Kapolres Sampang pada media. 

Walaupun Kemenpan hanya ingin melihat pelayanan SIM dan SKCK, pihaknya juga menunjukkan pelayanan Kamtibmas, personal internal, dan pelayanan bidang produk dan administratif, ujarnya.(Dafid Firmansyah)

Banyuwangi - Kepala Pusat Bendungan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air  Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Imam Santoso mengunjungi waduk Bajulmati, Banyuwangi, Sabtu (10/9). Kunjungan Imam untuk melihat perkembangan pengisian waduk yang telah dilakukan sejak Desember 2015 lalu.

"Sejak pengisian awal air (impounding) awal Desember lalu, waduk ini terisi 5,5 juta M3 dari kapasitas 10 juta M3. Memang belum terisi semua, karena sumber aliran air sungainya dipakai warga, jadi tidak semuanya untuk mengisi waduk," ujar Imam Santoso.

Imam juga menjelaskan bahwasanya waduk Bajul Mati memiliki kapasitas 10 juta Meter Kubik. Dengan daya tampung tersebut diharapkan bisa mengairi sawah hingga 1.800 Hektar, dan mampu mengalirkan air baku sebesar 120 Liter/Detik. "Sumber air tetap kami alirkan ke bawah (areal persawahan), tidak kami tutup, untuk memenuhi kebutuhan warga. Kan di bawah masih musim tanam. Target kami musim penghujan bisa terisi optimal," ungkapnya.

Selain untuk irigasi pertanian, waduk juga didesain untuk beragam penggunaan (multipurposes). "Waduk ini multipurpose function, mulai sebagai irigasi, penyedia air baku, penahan banjir, pembangkit listrik, bahkan wisata," ujar Imam.Untuk pemanfaatan pembangkit listrik sendiri, terang Imam, saat ini masih dalam kajian bentuk kerja sama yang akan dilakukan antara pemerintah dan pihak swasta.

"Sudah banyak perusahaan swasta yang akan berinvestasi untuk pembangkit listrik ini, namun masih kita sharing aturan-aturan kerja samanya," imbuhnya. Waduk Bajul Mati bisa menghasilkan potensi listrik 0,34 Mega Watt.

"Potensi listrik ini akan dijual ke PLN untuk memenuhi kebutuhan listrik bendungan sendiri," paparnya.Waduk Bajulmati yang dibangun dengan dana Rp 422 miliar itu juga akan dimanfaatkan sebagai destinasi wisata.

Posisinya yang strategis dan panorama yang cukup memikat akan dijadikan sebagai tempat rekreasi alternatif. Atas semua perkembangan ini, Imam akan melaporkan pada Menteri PUPR  untuk diteruskan kepada Presiden Jokowi. "Jokowi terus memantau perkembangan waduk yang dibangun di Indonesia, dan Kamis kemarin beliau meminta kami untuk meninjau waduk Bajul Mati. Selasa rencananya akan dilaporkan ke Menteri untuk diteruskan ke Jokowi," kata Imam.

Sementara itu, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Berantas Amir Hamzah yang menangani pengelolaan waduk di Jawa Timur menambahkan, pembangunan waduk di Banyuwangi ini harus diiringi dengan pembangunan embung-embung. Karena ketersediaan air ini sangat membantu warga saat musim kering tiba."Kamis depan, kami bersama Dinas Pengairan Banyuwangi akan mengadakan sosialisasi kepada masyarakat tentang pemanfaatan waduk ini," ujarnya.

Sementara itu Kepala Dinas pekerjaan Umum Pengairan Banyuwangi Guntur Priambodo mengatakan, waduk Bajulmati sangat bermanfaat bagi masyarakat Banyuwangi, terutama untuk membantu irigasi sawah dan pasokan air baku. "Di daerah Banyuwangi utara, waduk ini bisa menjadi sumber air bagi pertanian dan warga," ujarnya. Waduk Bajulmati juga telah menjadi destinasi baru bagi Banyuwangi. "Apalagi di dalam dan di depan gerbang waduk ada patung penari Gandrung yang ikonik," kata Guntur. (Dafid Firmansyah)

Banyuwangi – Jajaran Polres Banyuwangi kembali musnahkan ribuan botol Minuman Keras (Miras) di halaman Mapolres Banyuwangi, Selasa (06/09). Pemusnahan langsung disaksikan Asisten Deputi Koordinasi Pelaksanaan Kebijakan dan Evaluasi KemenPAN-RB Jeffrey Erlan Muller, Wakil Bupati Yusuf Widyatmoko, Kapolres Banyuwangi AKBP Budi Mulyanto, dan M. Yamin selaku Ketua MUI.

1.077 botol miras dari berbagai jenis, 57 jerigen arak Bali, dan 470 botol jamu tradisional dihancurkan dengan menggunakan Buldoser. Minuman keras yang dimusnahkan tersebut merupakan hasil operasi cipta kondisi menjelang Hari Raya Idul Adha yang dilakukan oleh seluruh jajaran Polres Banyuwangi.“Ini adalah hasil operasi anggota kami selama dua hari di seluruh kecamatan di Banyuwangi,” Ungkap Kapolres  Banyuwangi, AKBP Budi Mulyanto

Kapolres juga berharap, selain untuk mengantisipasi maraknya penyalahgunaan dan peredaran gelap minuman keras di masyarakat, operasi cipta kondisi juga sekaligus upaya pencegahan atas tindak kejahatan akibat mengkonsumsi minuman keras. Dan jajarannya mampu menjaga kondusifitas daerahnya masing-masing.

Sementara Wakil Bupati Banyuwangi, Yusuf Widyatmoko memberikan apresiasi aupaya jajaran Polres Banyuwangi dalam mencegah dan menindak kejahatan peredaran minuman keras di wilayahnya. Menurut Wabup, kejahatan peredaran dan akibat dari konsumsi minuman keras berpotensi menimbulkan berbagai ancaman keamanan bagi masyarakat.

Wabup juga mengajak masyarakat dan lembaga masyarakat untuk lebih berhati-hati terhadap masalah penyalahgunaan minuman keras.“Sinergi yang baik antara pemerintah, Polres dan lembaga masyarakat harus terus kita tingkatkan.  Karena ini akan menjadi senjata yang ampuh untuk memberantas peredaran dan penyalahgunaan minuman keras, sebab dampak minuman keras ini sudah banyak memakan korban dan merugikan masyarakat,” Pungkasnya.( Dafid Firmansyah)

Banyuwangi – Dinas Perindustrian dan Pertambangan (Disperindagtam) Banyuwangi mengadakan Inspeksi Mendadak (Sidak) di Pasar Hewan Desa Karangharjo Kecamatan Glenmore dan sosialiasi terkait kesehatan hewan ternak menghadapi Hari Raya Kurban, Jumat (02/09). Dalam sidak kali ini Disperindagtam Banyuwangi menemui anggota paguyuban pedagang pasar hewan Glenmore.

“Mendekati Hari Raya Idul Adha sampai usai hari Tasyrik.saya harap seluruh pembeli dan penjual lebih teliti lagi untuk membeli hewan kurban yang sehat. untuk memastikan keamanan makanan yang akan masyarakat konsumsi, sebagai salah satu upaya memberikan perlindungan kepada konsumen sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen Nomor 8 Tahun 1999.” kata Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pertambangan Banyuwangi Harry Cahyo Purnomo saat melakukan sidak.

Sidak kali ini Disperindagtam Banyuwangi bersama Forpimka Kecamatan Glenmore mengadakan ramah tamah dengan para anggota paguyuban pedagang pasar hewan Glenmore. Tim sidak menemui beberapa pedagang untuk menyampaikan keluh kesah yang ada di pasar hewan kecamatan Glenmore.

"Saran dari para pedagang agar pergantian jadwal hari jual di pasar hewan Glenmore yang semula hari Jumat diganti hari Sabtu sudah kami terima. Untuk itu akan kami pertimbangkan dan mengkajinya agar pedagang hewan ternak tidak merugi, sehingga perlu untuk mensosialisasikannya dahulu." Terang Harry.

Ia juga berharap akan ada perbaikan dengan fisik bangunan dan menejemen pasar, sehingga ia mengusulkan pada tim anggaran untuk menciptakan kebersamaan, keindahan, kebersihan, keamanan, kenyamanan, dan ketertiban pasar. Sebab kemarin teman-teman pedagang hewan ternak pernah kehilangan uang yang cukup besar."Imbuhnya.

Fauzi selaku Ketua Paguyuban Pedagang Ternak Hewan Glenmore meminta pada pihak terkait supaya menerima usulan kami untuk mengganti hari jual diganti hari Sabtu. Sebab hari Jumat merupakan hari sakral bagi kami selaku pedagang muslim, dan usulan ini sudah kami sampaikan setahun yang lalu. Ungkapnya. (Dafid Firmansyah)

AwalSebelumnya12BerikutnyaAkhir
Halaman 2 dari 2