EMail :
admin@lensarakyat.com

Pengunjung

224677
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Semua
107
819
5117
211697
18309
26664
224677

Your IP: 54.166.245.10
2018-05-25 02:47
×

Pemberitahuan

There is no category chosen or category doesn't contain any items

Bondowoso

Rabu, 14 Desember 2016 09:53

Limbah PT Bonindo Abadi Mengalir Tenang

Bondowoso – Ada pemandangan menarik di Dusun Daringan, Desa Pekauman, Kecamatan Grujugan, cairan hitam-kecoklatan mengalir tenang di salah satu saluran irigasi warga. Saat tim lensarakyat menelusuri, ternyata limbah cair itu berasal dari PT Bonindo Abadi yang beralamat di Jalan Raya Jember KM 9, Desa Pekauman, Kecamatan Grujugan.

Menurut pengakuan salah satu narasumber yang tidak mau namanya terpublikasi, limbah tersebut memang berasal dari pabrik kertas PT Bonindo Abadi. Melihat warnanya yang hitam, ia khawatir jika cairan tersebut akan mengandung bahan kimia, Sabtu (10/12).

Saat redaksi lensarakyat.com mendatangi perusahaan PT Bonindo Abadi Selasa (13/12), untuk klarifikasi dengan pimpinannya. menurut pengakuan Junaidi, salah satu Satpam PT Bonindo Abadi, pimpinannya sedang tidak ada di tempat. (SPR-02)

Bondowoso – Tanah tempat berdirinya SDN Suco Lor 1 yang berada di Desa Suco Lor, Kecamatan Maesan masih berpolemik. Pasalnya, Juwatik yang mengklaim sebagai pewaris dari tanah yang menjadi lokasi berdirinya SDN Suco Lor 1, masih belum menerima uang ganti rugi dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bondowoso. Ia berharap Pemkab Bondowoso segera membayar uang ganti rugi atas tanah miliknya.

“Tahun 1992 saya pernah mengajukan permintaan ganti-rugi ke Pemkab Bondowoso, melalui Kepala Desa Suco Lor, namun hingga kini masih belum ada uang ganti-rugi. Bahkan telah beredar kabar, jika anggaran untuk uang ganti-rugi kepemilikan tanah oleh Pemkab Bondowoso tidak ada,” kata Juwatik, warga Dusun Arjasa RT 03 RW 01, Desa Suco Lor Kecamatan Maesan, yang merupakan cucu dari P. Saidjab alias Ebas kepada lensarakyat.com, Selasa (13/12).

Perempuan delapan putra ini juga mengaku pernah menghadap ke Kantor Pemkab Bondowoso, dengan menemui Wisnu, Kasubag Aset dan Perlengkapan Kantor Pemkab Bondowoso. Dan Wisnu mengatakan, masih akan mengkonsultasikan dulu dengan pihak-pihak terkait, tuturnya.

Juwatik meminta agar masalah tanah miliknya ini, segera ada penyelesaian dari Pemkab Bondowoso. “Memang selama ini saya mengelola tanah kas desa sebagai tukar-pakai sebelum uang ganti-rugi cair. Namun saya khawatir, pada kemudian hari tanah kas desa tersebut akan menjadi masalah bagi keluarganya, pungkasnya.

Sementara, saat lensarakyat.com ingin mengkonfirmasi terkait tanah milik P. Saidjab alias Ebas ke Kantor Pemkab Bondowoso bertemu Kasubag Pemdes, kemudian ia menyarankan untuk konsultasi dulu dengan Wisnu. Namun saat lensarakyat.com mendatangi ruangannya, Wisnu sedang tidak ada di tempat (masih rapat-red).

Berdasarkan data yang redaksi lensarakyat.com himpun, SDN Suco Lor 1 berdiri di atas tanah hak yasan dengan petok 291 persil no, 70 dengan luas ± 0,392 Ha (3920 M²) atas nama P. Saidjab alias Ebas.(SPR-02).

JAKARTA, KOMPAS.com - Saat berkunjung ke sebuah destinasi wisata, Anda tentu telah memiliki daftar obyek wisata yang ingin Anda kunjungi.

Tetapi agar semua daftar obyek wisata Anda dapat terpenuhi, perlu persiapan matang dalam berbagai hal. Termasuk faktor cuaca dan agenda wisata daerah tersebut.

Begitu pula saat mengunjungi api biru atau blue fire yang tersohor di Pegunungan Ijen.

"Kalau melihat blue fire bisa kapan saja bisa. Enaknya jam satu atau dua dini hari, itu lagi bagus-bagusnya," ujar Adi Sunaryadi, Kepala Bidang Promosi Pariwisata Kabupaten Bondowoso kepada KompasTravel, Rabu (1/6/2016).

Agar kunjungan ke blue fire semakin komplet, tak ada salahnya Anda juga ikut memanen kopi bersama para petani kopi di Kecamatan Sempol, Bondowoso. Sebab blue fire dan perkebunan kopi memiliki jarak yang cukup dekat.

"Untuk panen raya kopi, waktu terbaik adalah bulan Juni sampai Agustus. Pengunjung bisa ikut memetik kopi di perkebunan kopi di Sempol," kata Adi.

 Kopi dari Pegunungan Ijen, Jawa Timur.
Selain itu Adi juga merekomendasikan Festival Muharram yang tahun ini jatuh bulan Oktober. Festival ini dilakukan secara rutin di Bondowoso disesuaikan dengan bulan Muharram dalam kalender Hijriah.

Pada Festival Muharram digelar pesta rakyat yang mempertunjukkan kesenian khas Bondowoso juga pameran produk unggulan.

Namun demikian Anda juga harus memperhitungkan iklim cuaca. Sebab, menurut Adi, iklim cuaca saat ini sulit untuk diprediksi. "Sekarang di Bondowoso hujan lagi deras-derasnya," kata Adi. Padahal bulan sudah memasuki bulan Juni yang semestinya dalah musim panas.

Sumber : KOMPAS.com

KOMPAS.com - Meski berada di Pulau Jawa, tepatnya di Jawa Timur, Kabupaten Bondowoso terbilang asing dengan batik. Jangankan memiliki motif batik khusus ciri khas daerah, sekitar 25 tahun yang silam pembuatan batik bagi masyarakat Bondowoso merupakan hal yang tak lazim.

Sampai Didi Astiawan (70) pada tahun 1985 membuat gebrakan dengan menciptakan batik khas Bondowoso. Bersama kakaknya, Didi menjalankan usaha menjual batik. Didi yang juga seorang seniman menciptakan batik, sementara sang kakak yang mempromosikan batik buatannya. 

"Saya selalu berpikir, selalu kalah dengan Solo dan Pekalongan, maka dari itu saya memakai ilmu petinju, yakni tak boleh mengikuti lawan. Saya harus cari terobosan lain dengan belajar dari alam. Ilmunya dari Yang Maha Kuasa," ujar Didi ditemui di Sumbersari Batik, di Maesan, Bondowoso, pada acara Familiarization Trip jurnalis dan fotografer ke Bondowoso, Minggu (22/5/2016). 

Didi membuat teknik yakni mencetak langsung medium daun-daunan ke kain. Awalnya teknikl ini banyak dicela orang lain. Tak menyerah, Didi akhirnya berhasil menciptakan ciri khas motif Bondowoso yakni motif daun singkong, kopi, dan bambu dari teknik tersebut. 

"Saya berpikir kalau orang akan bosan dengan batik. Saya pikir batik harus tampil berbeda dan bagus, caranya dengan menciptakan sistem melekat. Dari pertama kain harus dilihat ada cacat atau tidak. Pengawasan betul, setiap lini pekerjaan harus diberi petunjuk. Absen pekerja juga harus bagus, dikontrol," cerita Didi. 

Kain Batik tulis sedang dijemur di Batik Tulis Sumber Sari, Bondowoso.

Sistem kerja dan kualitas barang yang akhirnya membuat batik Didi dan kakaknya dengan merek Batik Sumbersari tetap bertahan. Walau usahanya sempat menurun dihantam krisis moneter tahun 1998 dan serbuan batik dari China. Pada tahun 2002, Didi berhasil mengestafet usahanya kepada anaknya, Yuke Yuliantraries. 

Kini Batik Sumbersari berkembang pesat, mempekerjakan 60 masyarakat sekitar sebagai pengrajin batik. Batik Sumbersari yang berlokasi di Jalan Sukowono I/07-09, Maesan, Bondowoso memang berbeda.

Tempat ini tak hanya sekadar menjual batik, tetapi juga menghadirkan pengalaman berbeda kepada pengunjung, yakni melihat proses pembuatan batik dari awal hingga akhir secara langsung. 

Selain itu tempat nan asri juga dimanfaatkan dengan membuat warung makan. Lelah berbebelanja dan melihat proses batik, pengunjung dapat menikmati makanan lokal khas Bondowoso di warung makan Batik Sumbersari.

Sumber : KOMPAS.com

BONDOWOSO, KOMPAS.com - Sebagai kabupaten dengan perkebunan kopi yang banyak serta antusiasme masyarakat yang tinggi akan kopi, Bupati Bondowoso Amin Said Husni pun kembali mendeklarasikan Kabupaten Bondowoso sebagai Republik Kopi.

Pada hari Sabtu, (21/5/2016) Amin memukul gong di Lapangan Hasanudin Kalisat, Kecamatan Sempol, Bondowoso, dalam rangka mendeklarasikan daerah pimpinannya dengan sebutan Republik Kopi.

Amin di kesempatan yang berbeda mengatakan jika ide nama Republik Kopi muncul ketika dirinya tengah berkumpul bersama para petani kopi di Bondowoso.

"Nama Republik Kopi dipilih karena terdengar casual, mudah diingat dan menarik," ujar Amin.

Kopi menurut Amin telah mengubah taraf hidup masyarakat Bondowoso. Dari yang tadinya ekonomi kelas menengah ke bawah menjadi kelas menengah atas.

Lewat bantuan berbagai pihak, petani kopi di Bondowoso dibina dan diberi penyuluhan agar dapat menghasilkan kopi dengan standar internasional.

"Kopi di Bondowoso sudah mendunia, dari antusiasme masyarakat Bondowoso, rasanya tidak mengada-ngada jika kita men-declare sebagai Republik Kopi," ungkap Amin.

Amin menjelaskan jika kopi Bondowoso memiliki spesialisasi rasa yang unik karena ditanam di daerah Pegunungan Ijen dengan tanah berunsur belerang.

Sumber : KOMPAS.com

AwalSebelumnya12345678BerikutnyaAkhir
Halaman 8 dari 8