EMail :
admin@lensarakyat.com

Pengunjung

195716
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Semua
1280
658
4231
182268
16012
23522
195716

Your IP: 54.81.71.187
2018-04-19 16:25
×

Pemberitahuan

There is no category chosen or category doesn't contain any items
Jumat, 06 April 2018 17:38

Puluhan Massa LSM FPR Jember Datangi Kantor BPR Cinde Wilis Cabang Ambulu Featured

Written by
Rate this item
(1 Vote)
Foto saat aksi unjukrasa jajaran LSM FPR dan 3 nasabah di depan Kantor BPR Cinde Wilis Ambulu. Foto saat aksi unjukrasa jajaran LSM FPR dan 3 nasabah di depan Kantor BPR Cinde Wilis Ambulu.
 
Jember - Kamis (05/04),puluhan massa LSM Forum Peduli Rakyat (FPR) Jember mendatangi Kantor BPR Cinde Wilis Cabang Ambulu dalam rangka mendampingi 3 nasabah bank tersebut. Menurut Ketua LSM FPR Jember, kedatangannya ini hanya meminta toleransi dalam penyelesaian masalah hutang - piutang ketiga nasabah yang ia kawal.
 
"Saya tidak ingin berdebat secara hukum ataupun keputusan terhadap piutang debitur BPR Cinde Wilis ini. Misalkan salah satu nasabah yang pinjaman pokoknya 75 juta, lalu bunga bank mencapai 13 juta dan denda sebesar 23 juta, ini sangat memberatkan," ucap Suwarno, Kamis (05/04).
 
Suwarno juga menyampaikan bahwa ia tadi sudah berdiskusi dengan pihak bank, namun antara pihak debitur dengan kreditur belum ada kata sepakat.
 
Sementara Kuasa Hukum BPR Cinde Wilis, Eko Imam Wahyudi SH kepada awak media mengatakan bahwa kedatangan LSM FPR ini terkait hutang piutang yang kita bagi 2 kasus. "Kasus pertama mengenai nasabah atasnama Indri Suhermini dan Hariani, mereka yang memiliki tunggakan pinjaman selama 1 tahun 8 bulan," ungkapnya.
 
"Kita sudah melelang jaminan mereka, karena setiap kita tagih tidak ada itikad baik, bahkan mereka sudah kita beri Surat Peringatan (SP) hingga 3 kali. Kemudian keduanya melakukan perlawanan ke Pengadilan Negeri Jember untuk melawan rencana lelang jaminan, namun PN Jember menolak gugatan mereka," tuturnya.
 
Imam juga menambahkan, pihak perbankan sebenarnya sudah memberi toleransi dengan memberi keringanan terhadap nasabahnya. "Seperti Hariani yang kita kalkulasi tunggakannya mencapai 111 juta, kita turunkan menjadi 110 juta hingga 105 juta, namun suami Hariani hanya ingin membayar pokoknya saja, itukan tidak mungkin," paparnya.
 
"Sebab perbankan itu dananya juga dari pinjaman antar bank, deposito, dan OJK juga mengawasi kita. Sebelum eksekusi kedua belah pihak kita pertemukan (pemenang lelang dan pihak Hariani) namun belum ada kata sepakat. Mau membeli kembali jaminan tidak ada, tiba - tiba unjuk rasa di bank, padahal kita sudah tidak ada lagi kepentingan dengan mereka, karena jaminan mereka sudah jadi hak milik pemenang lelang," jelasnya.
 
Imam juga menerangkan kasus kedua, yakni terkait hutang nasabahnya bernama Kamidi. "Pinjaman pokoknya 30 juta, sisa pinjaman 29 juta, bunga bank 4 juta dan denda 11 juta, karena tidak ada itikad baik, maka pihak kreditur mengajukan gugatan sederhana ke PN Jember," ujarnya.
 
"Akhirnya PN Jember pada tahun 2017 memutuskan bahwa hutang Kamidi tinggal sekitar 33 juta, hingga saat ini hutang tersebut masih belum terbayar," pungkasnya. (Sul).
Read 134 times