EMail :
admin@lensarakyat.com

Pengunjung

195720
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Semua
1284
658
4235
182268
16016
23522
195720

Your IP: 54.81.71.187
2018-04-19 16:27
×

Pemberitahuan

There is no category chosen or category doesn't contain any items
Senin, 16 April 2018 13:49

Mengintip Eksistensi Seni Kuda Lumping Di Desa Sidomulyo Featured

Written by
Rate this item
(1 Vote)
Foto sebagian antraksi seni jaranan Sekar Mulyo Desa Sidomulyo. (dok. Suliyadi). Foto sebagian antraksi seni jaranan Sekar Mulyo Desa Sidomulyo. (dok. Suliyadi).
 
Jember - Minggu (15/04),puluhan warga terlihat memadati halaman rumah Samsul, warga Dusun Curah Damar  RT 04 RW 12 Desa Sidomulyo Kecamatan Silo untuk menikmati kesenian tradisional kuda lumping. Berdasarkan data terhimpun, Desa Sidomulyo Kecamatan Silo merupakan cikal - bakal lahirnya kesenian tradisional kuda lumping yang kini eksistensinya nyaris punah.
 
Seni kuda lumping merupakan kesenian kolaborasi antara ilmu beladiri, tari dan ilmu gaib yang menimbulkan pemain kuda lumping tidak sadarkan diri. Namun seiring dengan perkembangan jaman, eksistensi kesenian kuda lumping di Desa Sidomulyo nyaris punah.
 
Dengan semangat melestarikan kesenian tradisional dan mempererat silaturrahmi pemain seni kuda lumping, Bambang Sutrisno hidupkan kembali kesenian tradisional kuda lumping melalui wadah Seni Jaranan Campursari Sekar Mulyo. Beragam antraksi ditampilkan dalam kesenian Jaranan Campursari Sekar Mulyo, mulai seni kuda lumping, can - macanan kadduk, tari pegon, tari janger dan perang ta' - buta'an (perang buto/raksasa) yang diiringi musik gamelan.
 
"Kesenian kuda lumping Jaranan Campursari Sekar Mulyo berdiri sejak 2014. Mengingat eksistensi kuda lumping di Desa Sidomulyo nyaris punah, kita bersama pemain kuda lumping yang kemarin sudah terpecah sepakat bersatu melestarikan seni tradisional kuda lumping," ungkap Bambang Sutrisno (39), Ketua Seni Jaranan Campursari Sekar Mulyo, Silo, Minggu (15/04).
 
Lanjut Bambang, agar eksistensi kesenian kuda lumping asuhan Seni Jaranan Campursari Sekar Mulyo terus terjaga, ia mengkonsepnya melalui sistem arisan. "Jadi tiap satu minggu sekali kita pindah - pindah memainkan antraksi, mengikuti pemenang arisan," ucapnya.
 
"Anggota Seni Jaranan Campursari Sekar Mulyo dari sejumlah Kecamatan, Silo, Mayang, Kalisat dan Sukowono. Bahkan anggota kita juga ada yang berdomisili di Kecamatan Kalibaru Kabupaten Banyuwangi," terangnya.
 
Pria asli kelahiran Jember ini juga berharap agar grup kesenian kuda lumping asuhannya ini juga mendapat perhatian khusus dari pemerintah, mengingat Kelompok Seni Jaranan Campursari Sekar Mulyo saat ini kekurangan peralatan gamelan, aksesoris permainan dan pendukung lainnya. "Misi kita hanya untuk melestarikan eksistensi kesenian kuda lumping yang merupakan salahsatu khazanah budaya tradisional Indonesia," pungkasnya. (Sul).
Read 15 times