EMail :
admin@lensarakyat.com

Pengunjung

225427
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Semua
857
819
5867
211697
19059
26664
225427

Your IP: 54.81.232.54
2018-05-25 23:29
×

Pemberitahuan

There is no category chosen or category doesn't contain any items

Internasional

Jember - Di lereng gunung Argopuro sebelah timur baru-baru ini ditemukan batu bernada gamelan Jawa, dan diduga batu jenis ini langka. Batu aneh yang ditemukan di Desa Panduman Kecamatan Jelbuk Kabupaten Jember ini dimungkinkan satu-satunya di dunia, memang pernah di tempat lain ditemukan batu berbunyi, namun bunyinya tidak memiliki nada seperti batu yang ditemukan di Desa Panduman. 
 
"Sebenarnya ada puluhan batu bernada gamelan Jawa yang kita temukan di satu titik di lereng gunung Argopuro, namun batu yang sudah  diselaraskan dengan tembang Kebo Giro oleh mahasiswa Unej baru delapan batu. Anehnya lagi, dalam satu batu bila kita pukul menghasilkan beberapa nada, seperti nang, ning, nong," ungkap pemilik lahan yang terdapat batu bernada gamelan Jawa, Hadi Purnomo kepada lensarakyat.com di kediamannya, Sabtu (20/05).
 
Hadi juga menambahkan, selain memiliki nada gamelan Jawa, keistimewaannya batu tersebut juga menghasilkan frekuensi bunyi yang sangat kuat, bahkan kabarnya sempat memekakkan telinga yang memainkan batu tersebut. Diantara ribuan batu yang kita ketemukan dan rencananya untuk kita buat pondok persinggahan, yang diketahui bernada gamelan Jawa diketemukan hanya dalam satu titik galian saja, jelas polisi berpangkat Aipda yang bertugas di Polres Jember.
 
"Tekstur batu yang memiliki nada gamelan Jawa ini sangat keras dan padat, serta timbangannya lebih berat dari batu biasa yang seukuran. Rencananya batu bernada gamelan Jawa ini saya beri nama selo bonang, yang berarti batu yang bisa berfungsi untuk alat musik, pungkas alumnus SMAN 3 Jember. (Suliyadi)
Denpasar, Bali - Direktorat Jenderal (Dirjen) Bea Cukai yang tergabung dalam ASEAN menggelar pertemuan di Nusa Dua, Denpasar, Bali. Pertemuan ke-26 para Dirjen Bea Cukai ini bertujuan untuk membahas rencana-rencana kerja Bea Cukai, seiring pertumbuhan ekonomi di kawasan ASEAN.
 
Pertumbuhan ekonomi Indonesia berkembang pesat, setelah Cina dan India. Dirjen se-ASEAN bisa menyampaikan arahan dalam rencana kerja 5 -10 tahun kedepan melalui keputusan strategis sesuai pertumbuhan ekonomi negara masing-masing,” ungkap Dirjen Bea Cukai RI, Heru Pambudi (15/5).
 
Disamping pertemuan strategis, Heru mengatakan jika nanti para Dirjen akan mengadakan pertemuan teknis. Sehingga dari pertemuan itu terjadi keputusan sebagai referensi untuk melaksanakan koordinasi tujuan jangka pendek dalam setahun berikutnya, terangnya.
 
Dari kesepakatan yang ada Heru mengharapkan, perkembangan ekonomi dan perdagangan Indonesia juga semakin maju. Mengingat, Bea Cukai memberikan perlindungan kepada terhadap serbuan produk ilegal yang berpotensi masuk ke pasar Indonesia, ucapnya.
 
“Secara menyeluruh Bea Cukai ASEAN memberikan perlindungan terhadap transaksi barang ilegal. Terutama perlindungan terhadap produk ilegal yang masuk ke Indonesia,” tutur Heru di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC).
 
Sementara Dirjen Bea Cukai Kamboja, Kun Nhem menyatakan bahwa pertemuan di Bali ini merupakan sebuah tantangan baru. The 26th Meeting of the ASEAN Directors-General of Customs diikuti oleh 10 negara ASEAN, dan acaranya berlangsung mulai 16-18 Mei 2017 di Nusa Dua, Bali, tuturnya.
 
“Kami akan memanajemen kesempatan ini sebagai bentuk tantangan baru,” terang Kun Nhem. (Hendrik)
Jumat, 19 Agustus 2016 18:39

Peserta JFC Sudah Siap Untuk Show Time

Jember – Ribuan peserta Jember Fashion Carnival (JFC) sudah siap untuk show time pada 24 – 28 Agustus mendatang. Kesiapan peserta dirasa begitu optimis oleh Dynan Fariz selaku President JFC saat melihat pelaksanaan blocking peserta Kids Carnival di Alun-Alun Kota Jember, Jum’at sore (19/08)

“ Kita sudah siap untuk show time pada event JFC tahun ini, saat ini tinggal blocking aja. Stamina peserta pun juga sangat siap, mulai dari peserta Kid Carnival, Art Wear Carnival dan Grand Carnival,” ungkap Dynan Fariz saat wartawan lensarakyat.com mewawancarainya usai pelaksanaan blocking Kids Carnival.

Fariz juga optimis jika pelaksanaan JFC tahun ini berjalan lancar dan meriah, meskipun ada kesulitan-kesulitan kecil namun seluruh masyarakat Jember utamanya dukungan sekolah-sekolah yang mau berpartisipasi dalam JFC sungguh luar biasa. “Diperkirakan peserta yang tampil pada tahun ini dua ribuan peserta, mulai dari Kid Carnival hingga Grand Carnival, “terangnya.

Ia juga berharap agar JFC bukan hanya menjadi Icon event Jember saja, tetapi juga menjadi event Carnival Indonesia dan Asia. kita tinggal tunggu show JFC tahun ini dan menunggu show-show yang akan datang, pungkasnya. (SPR-2)

 

WUERZBURG, KOMPAS.com –Kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS), Selasa (19/7/2016), mengklaim bertanggung jawab atas serangan berdarah dalam kereta api di stasiun kota Wuerzburg, Jerman selatan.

Serangan pada Senin (18/7/2016) pukul 21.15 waktu setempat dilakukan oleh seorang remaja imigran Afganistan dengan menggunakan kapak dan pisau.

Akibat serangan itu, 10 orang terluka.  Empat di antaranya, dalam kondisi kritis, yakni anggota dari satu keluarga asal Hongkong.

Satu bendera kelompok ISIS, yang dilukis dengan tangan, telah ditemukan di antara serakan barang-barang milik remaja pengungsi Afganistan tersebut tempat tinggalnya.

Remaja pengungsi itu tinggal bersama dengan keluarga angkatnya di  kota Ochsenfurt,  tak jauh dari lokasi penyerangan, di Jerman selatan. Dia ditembak mati polisi saat melarikan diri.

"Pelaku serangan pisau di Jerman adalah salah satu pejuang ISIS," kata kantor berita Amaq, media yang dekat dengan kelompok teroris tersebut.

Menteri Dalam Negeri Negara Bagian Bavaria, Jerman selatan, Joachim Herrmann , penyerang telah tiba di Jerman sebagai pengungsi anak tanpa pendamping atau datang sendiri dari negara asalnya.

Jerman adalah negara penampung imigran terbesar tahun ini, namun sejauh ini lolos dari serangan jihad skala besar, seperti yang sudah tiga kali terjadi di Perancis dan satu kali di Belgia.

Serangan teror terbaru dengan menggunakan truk sebagai senjata dilakukan oleh Mohamed Lahouaiej Bouhlel (31) hingga menewaskan 84 orang di Nice, Perancis selatan.

Serangan di Nice yang juga melukai 202 orang itu diklaim oleh ISIS bahwa salah satu “tentara”-nya telah melakukan serangan untuk membalas keterlibatan Perancis dalam serangan di Irak dan Suriah.

Serangan menakutkan di Bavaria kemungkinan akan menghidupkan kembali perdebatan nasional tentang upaya mengintegrasikan migran dan pengungsi

Sumber : KOMPAS.com

Media massa dan para pengamat di dalam dan di luar Turki, Senin (18/7), masih terus mengulas upaya kudeta yang gagal di Turki pada Jumat (15/7/2016) malam.

Media dan pengamat masih terkejut terhadap usaha kudeta yang kemudian bisa ditumpas hanya dalam tempo lima jam.

Segera muncul pula banyak analisis tentang mengapa upaya kudeta di Turki kali ini begitu cepat bisa ditumpas.

Padahal, empat kudeta di Turki sebelum ini, yakni kudeta tahun 1960, 1971, 1980, dan 1997, berhasil mulus.

Banyak analis menyebut, wajah peta politik di Turki sudah jauh berbeda antara dahulu dan sekarang.

Empat kudeta militer sebelum ini digerakkan dalam konteks peta perpolitikan Turki zaman dahulu, yakni pertarungan antara kaum Islamis dan kaum sekuler.

Kudeta militer di Turki saat itu selalu berhasil gemilang karena mengusung dalih menjaga ajaran sekuler pendiri Turki modern, Mustafa Kemal Ataturk.

Aksi kudeta militer saat itu pun langsung mendapat dukungan berbagai komunitas dan partai sekuler, terutama yang beraliran ideologi Ataturkisme, seperti Partai Rakyat Republik (CHP).

Seperti dimaklumi, pasca berdirinya Turki modern tahun 1923, pertarungan sengit antara kaum Islamis dan kaum sekuler muncul lagi di panggung politik Turki.

Terutama sejak 1950-an hingga kemenangan mutlak Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) pada pemilu tahun 2002.

Setelah tahun 2002 hingga sekarang, kubu Islamis yang dipimpin AKP memegang kendali politik dan ekonomi.

Dalam waktu yang sama, ada kekuatan Islamis lain, yaitu Jamaah Fethullah Gulen yang dikenal dengan sebutan Gulenis atau Hezmet.

Teman seperjuangan

Gulen sejatinya adalah teman seperjuangan Recep Tayyip Erdogan dalam membangun kekuatan Islamis di Turki sejak tahun 1970-an.

Kejayaan Islamis di Turki sejak tahun 2002 juga sekaligus mengangkat pamor Jamaah Fethullah Gulen.

Dengan kata lain, setelah tahun 2002, Erdogan dan Gulen sama-sama berada pada masa kejayaannya.

Akan tetapi, belakangan, persisnya sejak tahun 2010, mulai muncul di permukaan konflik antara Erdogan dan Gulen, alias mereka pecah kongsi.

Saat itu konflik dua sahabat lama itu dipicu oleh aksi Gulen mengkritik keras pemerintahan Erdogan yang mendukung pengiriman kapal Mavi Marmara untuk menembus blokade Jalur Gaza pada tahun 2010.

Bagi Erdogan saat itu, pengiriman kapal Mavi Marmara merupakan bagian dari pertarungan regional dengan Israel.

Sejak itu, Erdogan dan kubunya mulai menabuh genderang tentang adanya negara tandingan (parallel state) atau negara dalam negara yang merongrong kedaulatan negara Turki.

Nama negara bayangan adalah sebutan untuk jaringan Jamaah Fethullah Gulen yang saat itu dituduh berusaha membangun pengaruh di semua lini lembaga negara, seperti militer, kepolisian, dan peradilan.

Pada kenyataannya, gerakan Gulenis memang sudah merasuk jauh ke tubuh militer, kepolisian, dan peradilan.

Karena itu, dalam lima tahun terakhir ini, bisa disebut panggung politik Turki diwarnai perseteruan sengit antara Gulen (Islamis) dan Erdogan (Islamis), bukan lagi pertarungan kaum Islamis melawan kaum sekuler.

Islamis vs Islamis

Upaya kudeta militer pada Jumat malam lalu adalah bagian dari konflik Gulen-Erdogan itu atau Islamis vs Islamis.

Itulah sebabnya, kubu sekuler, termasuk CHP, menolak keras kudeta militer tersebut karena kubu sekuler melihat itu akibat konflik internal Islamis, bukan Islamis versus sekuler.

Kudeta militer kali ini juga sudah tidak lagi mengusung jargon menjaga ajaran sekuler Ataturk, seperti kudeta sebelumnya.

Sikap kubu sekuler itu bukan karena mendukung Erdogan, tetapi semata-mata demi kepentingan lebih besar lagi, yaitu menjaga kehidupan demokrasi.

Hal itulah yang menyebabkan militer pro kudeta menggempur gedung parlemen di Ankara, karena partai-partai politik dari semua aliran ideologi menolak kudeta militer.

Itu pula yang menjadi faktor pecahnya militer, antara pro dan kontra kudeta. Bahkan, sebagian besar satuan militer menolak kudeta.

Akhirnya upaya kudeta itu gagal total lantaran tidak mendapat dukungan dari sebagian besar satuan militer, partai-partai politik, dan terutama rakyat Turki dari semua golongan dan aliran ideologinya. (Musthafa Abd Rahman dari Kairo, Mesir)

Sumber : KOMPAS.com

ISTANBUL, - Lebih dari 15.000 pegawai pendidikan di Turki dipecat setelah gagalnya kudeta militer pekan lalu. Demikian disampaikan Kementerian Pendidikan Turki, Selasa (19/7/2016).

"Sebanyak 15.200 pegawai negeri diberhentikan dan investigasi terhadap mereka sedang dilakukan," demikian Kementerian Pendidikan Turki.

Kementerian Pendidikan menyebut, mereka yang diberhentikan adalah yang terkait dengan Organisasi Teroris Fethullah (FETO), sebutan pemerintah Turki untuk para pengikut ulama Fethullah Gulen yang kini mengasingkan diri di AS.

Pemerintahan Presiden Recep Tayyip Erdogan menuding Fethullah Gulen dan pengikutnya berada di belakang upaya kudeta yang menewaskan hampir 300 orang dan melukai ribuan orang lainnya.

"Investigasi terhadap mereka yang diduga terkait FETO sedang dilakukan," tambah kementerian tanpa memberi rincian lebih jauh soal pemecatan ini.

Sementara itu, Badan Pendidikan Tinggi Turki mendesak pengunduran diri 1.577 dekan universitas. Demikian dikabarkan kantor berita Anadolu.

Di antara para dekan itu, 1.176 berasal dari universitas negeri dan 401 orang adalah para pengajar di berbagai universitas swasta.

Sejak gagalnya kudeta militer pekan lalu, sekitar 9.000 orang termasuk petugas polisi, kehakiman dan pegawai pemerintah dipecat.

Sementara, sebanyak 7.500 orang ditahan termasuk para jenderal yang dituding mendalangi upaya kudeta tersebut.

Sumber : KOMPAS.com

LONDON,  — Grup musik rock, Queen, merasa frustrasi karena imbauan agar Donald Trump tak menggunakan lagu-lagu mereka di dalam kampanye tak diindahkan.

Selain imbauan dari Queen itu, perusahaan rekaman yang menaungi grup musik itu menegaskan, tim kampanye Donald Trump tak pernah meminta izin untuk menggunakan lagu-lagu Queen.

Perusahaan rekaman Sony/ATV, yang mengelola katalog lagu-lagu Queen, seperti "We Are the Champion", Selasa (19/7/2016), mengatakan, pihaknya sudah berulang kali meminta Trump tak menggunakan lagu-lagu milik Queen.

Namun, permintaan itu diabaikan dan lagu legendaris "We Are the Champions" dikumandangkan dalam konvensi nasional Partai Republik di Cleveland, Ohio.

Bulan lalu, gitaris Queen, Brian May, juga lewat blognya memprotes penggunaan lagu-lagu grup musik asal Inggris itu di dalam kampanye-kampanye Donald Trump.

"Atas nama Queen, kami merasa frustrasi karena lagu-lagu itu terus digunakan meski telah berulang kali kami meminta agar lagu tersebut tak digunakan. Permintaan kami diabaikan Trump dan tim kampanyenya," demikian pernyataan Sony/ATV.

Queen juga menyampaikan rasa tak sukanya terkait penggunaan "We Are the Champions" dalam konvensi di Cleveland, Ohio.

"Penggunaan lagu tanpa otorisasi di konvensi Partai Republik bertentangan dengan keinginan kami," demikian Queen lewat akun Twitter-nya.

Lagu tersebut digunakan mengiringi penampilan singkat Donald Trump di panggung konvensi beberapa saat sebelum sang istri, Melania, memberikan pidato.

"Queen tak ingin musik mereka diasosiasikan dengan debat politik apa pun di negara mana pun. Queen tak ingin 'We Are the Champions' dianggap sebagai dukungan terhadap Trump dan pandangan politik partai politik," demikian pernyataan Sony/ATV.

"Kami yakin dan berharap Tuan Trump dan tim kampanyenya akan menghormati permintaan ini di masa depan," tambah pernyataan itu.

Tak hanya Queen, grup musik lain seperti The Rolling Stones juga meminta Donald Trump tak menggunakan lagu-lagu mereka pada masa kampanye politik.

Demikian juga Adele dan Aerosmith yang meminta agar lagu-lagu mereka tak diputar untuk menyemangati para pendukungnya.

Neil Young juga keberatan lagunya "Rockin' in the Free World" digunakan sebagai pembuka kampanye Trump tahun lalu.

Permintaan serupa juga datang dari Elton John yang tak ingin lagu-lagunya digunakan dalam ajang kampanye.

Sumber : KOMPAS.com