EMail :
admin@lensarakyat.com

Pengunjung

225438
Hari Ini
Kemarin
Minggu Ini
Minggu Lalu
Bulan Ini
Bulan Lalu
Semua
868
819
5878
211697
19070
26664
225438

Your IP: 54.81.232.54
2018-05-25 23:33
×

Pemberitahuan

There is no category chosen or category doesn't contain any items

Wisata Lokal

 
Jember - Ada yang unik saat warga sekitar pantai Watu Ulo Kecamatan Ambulu merayakan lebaran ketupat, mereka merayakannya dengan menggelar festival Pegon. Pegon atau Cikar merupakan salah satu alat pengangkutan tradisional warga sekitar pantai Watu Ulo berupa sepasang sapi yang menarik gerobak untuk mengangkut material berupa pasir atau batu - bata.
 
"Pegon adalah alat angkut tradisional yang kini keberadaannya sudah mulai hampir punah, biasanya saat lebaran ketupat warga sekitar pantai Watu Ulo pergi ke pantai untuk merayakan dengan menikmati hidangan ketupat bersama keluarga dengan menaiki Pegon. Melalui festival Pegon ini kita ingin menghidupkan lagi tradisi naik Pegon sekaligus menikmati keindahan alam di pantai Watu Ulo, ungkap Ketua Paguyuban Pegon Margo Rukun, sekaligus ketua panitia festival Pegon, Seneman kepada awak media, Minggu (02/07).
 
Seneman juga menyampaikan jika dalam festival Pegon peserta harus menghias Pegon dengan berbagai aksesoris, bagi pemenang akan tersedia hadiah. 
 
Sementara Kabid Budaya Dinas Pariwisata Kabupaten Jember, Susmiadi mengatakan hal senada, festival Pegon ini sudah ada sejak tahun 1989 silam dan masyarakat selenggarakan setiap H+7 hari raya Idul Fitri. Pegon atau Cikar ini berjalan secara berarak - arak dengan menempuh jarak 10 Kilometer," ungkapnya, Minggu (02/07).
 
"Festival Pegon ini juga bertujuan untuk menarik minat para wisatawan agar berkunjung ke pantai wisata Watu Ulo, festival ini sempat vakum selama dua tahun terakhir," pungkasnya.
 
Sementara Kepala Desa Sumberejo Kecamatan Ambulu, Riyono Hadi mengaku puas dengan adanya festival Pegon tahun ini. Ia menilai puluhan peserta festival Pegon berjalan sesuai dengan harapannya, yakni berlangsung meriah, ucapnya.
 
"Pendaftaran peserta festival Pegon ini kita gratiskan, bagi peserta yang beruntung nanti akan mendapatkan hadiah dari panitia," tuturnya. (Suliyadi)

Kabupaten Malang - Untuk mengoptimalisasi kepariwisataan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malang menggelar kompetisi rafting di wisata Kasembon Rafting, Selasa (18/04).


Kompetisi yang diikuti puluhan peserta ini dibuka langsung Bupati Malang, Rendra Kresna bersama beberapa kepala SKPD Pemkab Malang.


Kompetisi ini menurut Kepala Disbudpar Made Arya Wedhantara untuk mendongkrak kepariwisataan di Kabupaten Malang, khususnya wilayah barat Kabupaten Malang.


"Ini salah satu ajang promosi kepariwisataan yang terus kita genjot dengan berbagai event dan bentuk promosi lainnya. Sehingga berbagai macam destinasi wisata kabupaten akan semakin terkenal, contohnya Kasembon Rafting ini," ujar Made.


Ia menambahkan jika pihaknya juga bekerjasama dengan beberapa SKPD terkait untuk membangun dan memperbaiki akses menuju wisata rafting tersebut. Tidak itu saja pihaknya juga mendorong masyarakat sekitar lokasi wisata rafting untuk membuat jajanan kuliner maupun kerajinan khas Kasembon, ucapnya.


"Kita dorong masyarakat untuk proaktif mempromosikan wisata rafting ini dengan membuat salah satu ciri khas, entah itu berupa jajanan khas maupun kerajinan khas masyarakat di Kasembon rafting ini agar bisa menjadi ikon khas Kasembon," tutur pria kelahiran Bali ini.


Kreatifitas masyarakat ini menurutnya bakal mampu mengangkat perekonomian masyarakat menjadi lebih makmur sehingga akan muncul pelaku ekonomi kreatif. (GT)

BONDOWOSO, KOMPAS.com - Ada satu "surga" kecil yang bisa dikunjungi setelah turun dari Gunung Ijen yang berada di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso, yaitu Kawah Wurung yang secara administratif berada di Desa Jampit, Kecamatan Sempol, Bondowoso.

Di Kawah Wurung, wisatawan bisa menikmati hamparan padang rumput yang hijau dengan lembah serta sebuah cerukan yang berbentuk seperti kaldera gunung. Wurung sendiri diambil dari Bahasa Jawa yang artinya "tidak jadi atau batal".

"Dulu katanya ini bagian dari kawah gunung Ijen. Tapi karena nggak ada airnya jadi disebut kawah wurung. Nggak jadi," jelas Nyoman salah satu penjaga parkir di sekitar Kawah Wurung kepada Kompas.com, Minggu (1/5/2016).

KOMPAS.COM/IRA RACHMAWATI Wisatawan yang berkunjung di kawasan Kawah Wurung di Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.

Selain hamparan rumput yang menghijau, wistawan juga bisa menikmati deretan bukit-bukit kecil yang menjadi surga bagi pecinta fotografi. Udara yang dingin serta angin yang berhembus cukup kencang bisa mengurangi kebosanan dari rutinitas pekerjaan sehari-hari dan tempat yang tepat untuk menenangkan diri.

Untuk menuju ke Kawah Wurung, saat turun dari Gunung Ijen, Anda bisa melanjutkan perjalanan ke arah Bondowoso dengan motor atau mobil pribadi lalu tinggal mengikuti petunjuk arah yang telah disediakan.

Sepanjang perjalanan, kita bisa menikmati kebun kopi serta pemandangan khas pemukimanan di perkebunan. Kurang dari satu jam, Anda akan melewati jalan setapak yang menanjak, lalu selamat datang di Kawah Wurung Bondosowo. Pastikan memori dan baterai kamera cukup untuk mengabadikan keindahan surga kecil di Bondowoso. 

Sumber : KOMPAS.com

BONDOWOSO, KOMPAS.com- Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, rupanya menyimpan banyak potensi wisata. Salah satunya di Desa Lombok Kulon, Kecamatan Wonosari. Desa tersebut oleh Pemerintah Kabupaten Bondowoso dijadikan sebagai desa wisata organik.

Diperlukan waktu sekitar 30 menit dari arah Kota Bondowoso untuk menuju lokasi desa wisata organik tersebut. Anda jangan khawatir, karena akses jalan menuju lokasi wisata itu sudah nyaman dilalui kendaraan roda empat, walaupun hanya cukup untuk satu kendaraan saja.

Di desa tersebut, seluruh hasil sumber daya alamnya sama sekali tidak menggunakan bahan pestisida. Mulai dari beras, sayur mayur, buah-buahan, telur hingga ikan. Bagi para wisatawan yang datang ke desa itu, bisa memetik buah langsung dari pohonnya, lalu memanen sayur- sayuran dan ikan, serta langsung dimasak sesuai dengan keinginan.

“Hasil alam di desa kami ini sama sekali tidak menggunakan produk kimia, jadi sangat bagus untuk kesehatan. Ada beras, ada ikan patin, nila, gurami, juga ada buah-buahan dan sayur-sayuran,” kata Baidhowi, Ketua Kelompok Desa Wisata Organik Lombok Kulon, Sabtu (27/9/2014).

KOMPAS.COM/AHMAD WINARNO Desa wisata organik di Desa Lombok Kulon, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Situbondo, Jatim. Ikan di kolam ini, sama sekali tidak menggunakan produk kimia.

Saat ditemui di rumahnya, Baidhowi menceritakan, tidak mudah menggugah kesadaran masyarakat di desanya untuk beralih menggunakan pupuk organik. “Mengubah pola pikir masyarakat, untuk beralih dari pupuk kimia ke pupuk organik tidak mudah. Dalam benak mereka, jika menggunakan produk organik pasti akan berdampak kepada turunnya produksi sawah mereka,” ujarnya.

Baidhowi mengaku, butuh empat tahun lamanya untuk mengubah pola pikir masyarakat untuk beralih menggunakan pupuk organik. “Selama dua tahun, sejak tahun 2007-2008 saya sempat gagal mengubah pola pikir masyarakat, namun saya tidak lantas menyerah,” kenangnya.

Namun seiring berjalannya waktu, upaya Baidhowi mulai terlihat. Di tahun 2009 lalu, masyarakat mulai sadar dan beralih menggunakan pupuk organik. “Namun saat itu lahan yang menggunakan produk organik baru setengah hektar saja, jadi masih sangat minim,” ungkap pria yang sudah dikaruniai dua anak ini.

Akhirnya tahun 2013, lahan yang menggunakan produk organik bertambah menjadi 25 hektar. “Meski demikian, setelah hasil panen dicek ke laboratorium, ternyata yang benar-benar menggunakan pupuk organik baru 11 hektar, tetapi nggak masalah yang penting lambat laun masyarakat sudah beralih,” imbuhnya.

KOMPAS.COM/AHMAD WINARNO Desa Wisata Organik di Desa Lombok Kulon, Kecamatan Wonosari, Bondowoso Jawa Timur.

Barulah kemudian, di bulan Juni lalu, hasil produksi pertanian di lahan seluas 25 hektar itu dinyatakan benar-benar organik. “Alhamdulillah, ini adalah kerja keras masyarakat semua untuk mewujudkan program desa wisata organik,” tuturnya.

Selain menyediakan hasil alam organik, para wisatawan yang datang ke desa wisata itu juga dimanjakan dengan permainan tubing di aliran sungai yang ada di desa itu. “Di sini juga kami sediakan home stay bagi para pengunjung yang ingin bermalam. Jadi sambil berwisata, para pengunjung juga bisa belajar tentang konsep pertanian organik di desa kami,” kata pria kelahiran 45 tahun silam ini.

Sumber : KOMPAS.com